MK :
SOSIOLOGI UMUM HARI/TANGGAL :JUM’AT/1-5-2015
NAMA : BAGAS ARIS PRIYONO/B04140043 RUANG : CCR 2.12 (P05.2)
“SISTEM STATUS DAN PELAPISAN MASYARAKAT SISTEM STATUS YANG
BERUBAH”
Runtuhnya Sistem Status
Kolonial dalam Abad Kedua Puluh
OLEH :
W.F. Wertheim
“SITUASI SOSIAL DUA KOMUNITAS DESA DI SULAWESI SELATAN”
OLEH :
Mochtar Buchori
Wiladi Budihaga
Wiladi Budihaga
Nama asisten :
Darman gusnani/H54120036 Mega Novita/I34120142
Ikhtisar Bacaan
Bacaan 1
:
Sekitar tahun 1900, Belanda berhasil
menegakkan kekuasaannya di seluruh kepulauan Indonesia. Pelapisan masyarakat
kolonial menurut garis ras, yang lazim terdapat di pulau Jawa, mulai meluas ke
pulau-pulau seberang. Tetapi pada abad XX terjadi perkembangan dinamis yang
menerobos pola yang kaku ini dan meningkatkan mobiltas sosial.
Di
luar Jawa, uanglah yang terutama melakukan pendobrakan terhadap sistem asli
yang lama. Sebagai contoh, di beberapa daerah di Kalimantan tenggara, di mana
pemerintahan adat feodal telah dikesampingkan karena bermusuhan dengan Belanda,
maka paham individualisme telah mencapai kemajuan lagi, dan selain dari ukuran
keagamaan yang mempunyai kepentingan yang amat besar, kesejahteraan materi
merupakan ukuran utama dalam menentukan prestise kemasyarakatan. Sementara di
Jawa, semenjak tahun 1900, terjadi peningkatan perbedaan profesi. Bertambah
luasnya ekonomi uang dan meningkatnya hubungan dengan orang Barat telah
menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Perkembangan
selanjutnya, usaha pribadi untuk naik dalam tingkat-tingkat sosial dalam
masyarakat ini tidak mengambil bentuk perjuangan untuk memperoleh laba dari
perdagangan atau pekerjaan bebas, tetapi dalam suatu perjuangan untuk mencapai
pengakuan resmi dengan perantaraan ijazah. Dengan demikian, pendidikan telah
menciptakan kelas orang Indonesia yang mempunyai pendidikan Barat sampai
tingkat tertentu. Kelas cendikiawan lantas dipandang memiliki kewibawaan labih
tinggi dari para penguasa tradisional dan Kiai. Orang Indonesia kemudian mulai
diangkat kepada jabatan-jabatan yang semula merupakan hak istimewa untuk orang
Eropa sebagai akibat dari dibutuhkannya tenaga-tenaga terlatih dan mahir bahasa
Belanda. Kendatipun telah berkembang kelas menengah Indonesia, perbedaan
pendapatan masih sejalan dengan pelapisan ras.
Akibat
dari mencairnya garis batas sosial, persaingan ekonomi dan sosial timbul antara
kelompok-kelompok yang berdampingan.
Sehingga para kaum borjuis membentuk barisan untuk menguatkan
solidaritas sebagai upaya meghadapi kelas yang sedang menanjak dengan tujuan
utama mempertahankan hak-hak istimewa kemasyarakatan. Di pihak lain, dikalangan
orang-orang Indonesia terdapat kecenderungan untuk mengadakan persatuan yang
disertai kesadaran kebangsaan dan akibat dari berkurangnya rasa hormat terhadap
bangsa Belanda. Dalam dunia dagang, monopoli tidak lagi dipegang oleh orang
Cina karena pedagang-pedagang Indonesia semakin besar jumlahnya dan
mengooganisasi diri sehingga mengancam kedudukan kelas orang Cina.
Dengan demikian, terdapat suatu
kecenderungan yang kuat ke arah suatu sistem nilai yang baru berdasarkan
kemakmuran individu dan kemampuan intelektual seseorang, tetapi perkembangan
ini masih ditahan, baik oleh sisa-sisa struktur kolonial maupun feodal. Sekitar tahun 1920, golongan Indo bergabung dalam Persatuan Indo Eropa ( Indo – Europeesch Verbond ) dalam
menghadapi kelas yang sedang menanjak, yaitu orang Indonesia yang berpendidikan
Barat. Tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan hak – hak istimewa
kemasyarakatan.
Orang orang cina tidak lagi memegang monopoli dalam lapangan ini.
Pedagang Indonesia yang jumlahnya
semakin besar, beberapa di antara mereka mengorganisir diri menurut garis –
garis koperasi. Lagi pula, di waktu periode kemelut, pedagang menengah Cina
menghadapi lagi kesukaran yang lebih besar, karena para importir jawa berusaha
untuk menghilangkan perdagangan perantara cina. Kelompok antara Indo dengan
Cina mempunyai persamaan kebudayaan yang semakin besar. Hal ini dapat dilihat
dari kenyataan bahwa orang Cina Indonesia biasanya telah lupa dengan bahasa
Cina.
Oleh karena itu, kedudukan istimewa
yang diduduki orang Eropa dan orang Cina, sebagaimana halnya dengan kaum
bangsawan feodal, telah menjadi kurang stabil.
Bacaan 2
:
Komunitas Maricaya
Selatan terdiri dari lima golongan masyarakat yang menempati
tiga lapisan pokok, yaitu golongan pejabat dan kelompok
professional di lapisan
atas; golongan alim ulama, golongan pegawai dan golongan pedagang di
lapisan menengah; golongan buruh di lapisan bawah. Masyarakat Maricaya Selatan bersifat
heterogen. Terlihat akan tanda-tanda adanya usaha untuk menembus dinding-dinding antar lapisan dan antar
golongan. Penduduk dari golongan mayoritas cukup terbuka
dengan golongan minoritas tetapi penduduk
dari lapisan menengah hanya terbuka dengan golongannya sendiri.
Dilihat dari segi ekonomi dalam
masyarakat Maricaya Selatan tedapat tiga lapisan masyarakat, yaitu lapisan
ekonomi mampu, menengah, miskin. Apabila informasi-informasi tentang
stratifikasi sosial dan stratifikasi ekonomi digabungkan, maka diperoleh 3
lapis masyarakat; atas, mampu; menengah, sedang; dan bawah, miskin. Kesempatan
pendidikan bagi anak-anak di masyarakat ini tersedia cukup luas dari TK hingga
perguruan tinggi. Pada kelompok usia 7-12 tahun mayoritas dapat mengenyam
pendidikan SD setempat, 54% lulusan melanjutkan ke SLTP, 65% lulusan SLTP
melanjukan ke SLTA, dan 20% lulusan SLTA melanjutkan ke perguruan tinggi. Kesan
umum yang dapat ditarik ialah bahwa masyarakat Maricaya Selatan memanfaatkan
kesempatan seoptimal mungkin. Apabila data tentang pendidikan ini dihubungkan
dengan ekonomi, maka ini dapat menggambarkan tingkatan ekonomi orang tua.
Dalam
masyarakat Polewali terlihat adanya tiga lapisan masyarakat yaitu, lapisan atas,
kaya; menengah, sedang dan bawah, miskin. Kelompok masyarakat Bugis dan Makasar
merupakan kelompok yang paling besar pengaruhnya dalam kehidupan sosial
terutama dalam kehidupan adat dan keagamaan, dan paling besar peranannya dalam
kehidupan ekonomi. Dalam kelas-kelas tersebut terdapat perbedaan yaitu berupa
gaya hidup. Masyarakat Polewali secara keseluruhan menjunjung tinggi pendidikan
sebagai sarana memperoleh tempat yang terhormat dalam masyarakat. Kelompok
masyarakat Polewali pada dasarnya merupakan suatu masyarakat yang lugas mengisi
kehidupan mereka sehari-hari dengan berbagai usaha untuk menghadapi dan
menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang terdapat di lingkungan mereka.