Laporan Praktikum Hari/Tanggal:
Rabu/ 22 April 2015
Biokimia Umum Waktu : 14.00 – 17.00 WIB
PJP : Ukhradiya SSi.MSi
Asisten : 1. Galih Tridarma Poetra
2. Dezika Geniya
3. Nur Hidayah
4. Yoana Puspita Sari
ENZIM
2
Kelompok 2
Deanty
Chairunnisa B04140013
Gita
Purnama B04140021
Bagas
Aris P. B04140043
Christo
F. Matutina B04140092
DEPARTEMEN
BIOKIMIA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
Pendahuluan
Enzim adalah suatu kelompok protein yang menjalankan
dan mengatur perubahan-perubahan kimia dalam sistem biologi. Zat ini dihasilkan
oleh organ-organ hewan dan tanaman, yang
secara katalitik menjalankan berbagai reaksi, seperti pemecahan hidrolisis,
oksidasi, reduksi, isomerasi, adisi, transfer radikal dan terkadang pemutusan
rantai karbon. Kebanyakan enzim yang terdapat di dalam alat-alat atau
organ-organ organisme hidup berupa larutan koloidal dalam cairan tubuh, seperti
ludah, darah, cairan lambung dan cairan pankreas. Enzim terdapat di dalam bagian sel. Hal ini
terikat erat dengan protoplasma. Enzim juga ada di dalam mitokondria dan
ribosom (Sumardjo, 2008).
Tujuan
akhir pencernaan dan absorbsi karbohidrat adalah mengubah karbohidrat menjadi
ikatan-ikatan yang lebih kecil, terutama berupa glukosa dan fruktosa, sehingga
dapat diserap oleh pembuluh darah melalui dinding usus halus. Pencernaan
karbohidrat kompleks dimulai dari mulut dan berakhir di usus halus. Proses
pencernaan suatu hewan, misalnya mamalia, biasanya bergantung pada hidrolisis
dari bermacam-macam senyawa yang dikandungnya, termasuk karbohidrat. Secara
umum sejumlah besar molekul karbohidrat sulit untuk dicerna. Pati lebih sulit
dicerna dibandingkan disakarida dan trisakarida. Selulosa merupakan karbohidrat
yang sangat sulit dicerna (Almatsier 2010). Menurut
Isnaeni dan Wiwi (2006) kebanyakan hewan tidak dapat mencerna selulosa, kecuali
beberapa hewan tertentu, misalnya sapi, sapi dapat mencerna selulosa dalam
beberapa jam. Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut, dimana bahan makanan
bercampur dengan ptialin, yaitu enzim yang dihasilkan oleh kelenjar saliva
(saliva hewan ruminansia sama sekali tidak mengandung ptialin). Ptialin
mencerna pati menjadi maltosa dan dekstrin. Pencernaan tersebut sebagian besar
terjadi di mulut dan lambung. Musin dalam saliva tidak mencerna pati, tetapi
melumasi bahan makanan sehingga bahan makanan mudah untuk ditelan.
Mikroorganisme dalam rumen merombak selulosa untuk membentuk asam-asam lemak
terbang. Mikroorganisme tersebut juga mencerna pati, gula, lemak, protein, dan
nitrogen bukan protein untuk membentuk protein mikrobal dan vitamin B. Amilase
dari pankreas dikeluarkan kedalam bagian pertama usus halus (duodenum) yang
kemudian terus mencerna pati dan dekstrin menjadi dekstrin sederhana dan
maltosa (Campbell et al 2004).
Pati bermanfaat sebagai sumber energi bagi tubuh, cadangan
tenaga, serta sebagai zat pembangun tubuh. Seseorang yang dikatakan kekurangan
karbohidrat atau pati berarti tubuhnya tidak akan mampu menciptakan energi yang
cukup. Hal ini bisa mengakibatkan tubuh mudah lelah dan terasa lemah. Selain
itu, tubuh akan mengalami kesulitan untuk melawan berbagai jenis penyakit dan
proses penyembuhan luka. Akibat kekurangan pati adalah masalah dengan
hipoglikemia yaitu merupakan masalah yang disebabkan karena rendahnya gula
darah dalam tubuh. Pada umumnya, hipoglikemia diartikan sebagai kadar glukosa
serum (jumlah gula darah atau glukosa dalam darah) dibawah 70 mg/dL. Penyebab
hipoglikemia adalah karena penggunaan suntikan insulin yang berlebihan,
penggunaan alkohol, infeksi, kondisi bawaan, gagal ginjal, kekurangan hormon
atau enzim, serta kurangnya pasokan glukosa dalam tubuh. Ciri orang yang
menderita penyakit ini adalah tubuh berkeringat dingin, lemas, denyut nadi cepat,
mengalami kecemasan, dan merasa selalu lapar (Achadi dan Endang 2007).
Tujuan
Percobaan dilakukan untuk
mengidentifikasi pengaruh pH terhadap aktivitas amilase air liur, hidrolisis
pati matang oleh amilase air liur, serta hidrolisis pati mentah oleh amilase
air liur.
Metode dan Alat
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan, yaitu
air liur, akuadess, kanji 1%, pereaksi iod, pereaksi Benedict, HCl, asam
asetat, dan Na-karbonat 0,1%. Alat-alat yang digunakan, yaitu penangas air, papan uji, serta alat-alat
gelas.
Pengaruh
pH pada aktivitas amilase air liur.
Masing-masing dari empat tabung reaksi diisi dengan 2 mL HCl, 2 mL asam asetat,
2 mL akuades, dan 2 mL Na-karbonat 0,1%. Masing-masing nilai pH dari setiap
tabung adalah 1, 5, 7, dan 9. Setiap tabung ditambahkan dengan 2 mL larutan
kanji 1% dan 2 mL air liur. Campuran dikocok dengan baik dan diletakkan pada
penangas air 37°C selama 15 menit. Isi tabung diuji dengan pereaksi iod dan
Benedict.
Hidrolisis
pati matang oleh amilase air liur. Sebanyak 0,2 tetes air liur
dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan pati matang 1%, dikocok, dan
dikondisikan pada suhu 37°C. Sebanyak 1 tetes isi tabung dipindahkan ke papan
uji dan diteteskan dengan pereaksi iod setiap selang waktu 0,5 menit. Perubahan warna
yang terjadi pada setiap menitnya dicatat dari warna biru, kecoklat-coklatan
sampai tidak memperlihatkan perubahan warna lagi. Saat pereaksi iod tidak lagi
positif disebut titik akromatik. Pengujian terhadap pereaksi iod dihentikan
ketika sudah tercapai titik akromatik.
Hidrolisis
pati mentah oleh amilase air liur. Larutan
pati 1% dibuat dengan cara mencampurkan 0,05 gram pati mentah dengan 5 mL
akuades. Kemudian sebanyak 1 mL
air liur ditambahkan ke dalam larutan pati tersebut dan dikondisikan pada suhu
37°C. Sebanyak 1 tetes isi tabung dipindahkan ke papan uji dan diteteskan
dengan pereaksi iod setiap selang waktu 0,1
menit. Perubahan warna yang terjadi pada setiap menitnya dicatat dari warna
biru, kecoklat-coklatan sampai tidak memperlihatkan perubahan warna lagi. Saat
pereaksi iod tidak lagi positif disebut titik akromatik. Pengujian terhadap
pereaksi iod dihentikan ketika sudah tercapai titik akromatik.
Hasil dan
Pembahasan
|
Tabel 1 Pengaruh pH terhadap Pati
|
|||
|
Uji
|
Hasil
|
Gambar
|
|
|
Benedict
|
Yodium
|
||
|
Asam Klorida
|
(-) Hijau
|
(+) Biru kehitaman
|
|
|
Asam Asetat
|
(+) Oranye pekat
|
(-) Kuning bening
|
|
|
Akuades
|
(+)
oranye muda pekat
|
(-) Kuning bening seulas
|
|
|
Na- Karbonat
|
(+) kuning kemerahan pekat
|
(-) Kuning kecoklatan bening
|
|
PEMBAHASAN
Kondisi pH dapat mempengaruhi aktivitas enzim melalui pengubahan struktur
atau pengubahan muatan pada residu yang berfungsi dalam pengikatan substrat
atau katalis.nilai pH yang ekstrim
tinggi ataupun rendah akan menurunkan kecepatan reaksi (sutarno 2001). Enzim
amilase saliva memiliki pH optimal pada pH 7, karena pada pH ini diperoleh
aktivitas enzim yang tinggi (kecepatan reaksi enzimatik tinggi). Umumnya
kecepatan reaksi enzimatik meningkat hingga mencapai pH optimal dan menurun
setelah pH lebih besar dari pH optimal. Uji
Benedict merupakan sebuah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula
(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan
beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa (Sastrohamidjo 2005). Uji
Iodium didasari atas polisakarida dengan penambahan iodium yang akan membentuk
ikatan kompleks berwarna biru (Bintang 2010).
Hasil
percobaan pada pH asam yaitu pada asam klorida dengan uji iod menghasilkan yang
positif, untuk larutan asam asetat menunjukan hasil negatif sedangkan pada
Na-karbonat hasilnya negatif begitu pula pada akuades. Untuk uji benedict pada
larutan asam klorida, dan asam asetat yang ditambahi air liur hasilnya negatif
sedangngkan pada akuades dan Na-karbonat hasilnya positif. Hal ini menunjukkan
bahwa ketika uji iod dilakukan dan hasilnya berwarna biru itu berarti enzim
aktif, sedangkan untuk uji benedict jika hasilnya berwarna biru berarti
menunjukkan tidak terdapatnya gula pereduksi atau terhidrolisis. amilase yang
terdapat dalam saliva adalah α-amilase liur yang mampu membuat polisakarida
(pati) dan glikogen dihidrolisis menjadi maltosa dan oligosakarida lain dengan
menyerang ikatan glikosodat α(1 4) (soewoto 2000). Amilase liur akan segera
terinaktifasi pada pH 4 sebenarnya inaktif pada pH 2 atau 1 ini terjadi karena
dari awal keadaan air liur sudah terlalu asam karena asam asetat. pH aktif
enzim yaitu antara 6-8, sedangkan pH 7 optimumnya .
Tabel
2. Hodrolisis pati oleh amilase air liur
|
Uji
|
Waktu (menit)
|
Hasil
|
Pengamatan
|
Gambar
|
|
Iod
|
0.5
|
+
|
Biru
|
|
|
Iod
|
1
|
+
|
Biru
|
|
|
Iod
|
1.5
|
+
|
Biru
|
|
|
Iod
|
2
|
+
|
Biru
|
|
|
Iod
|
2.5
|
-
|
Kuning
|
Keterangan:
+: Mengandung pati
-: tidak mengandung pati
Saliva mengandung enzim amilase. Enzim Amilase
mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen ( Maryati 2008)
Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh
enzim pada ikatan alfa-1,4- dan alfa-l,6-glikosida (Amerongen 2006) Mekanisme hodrolisis pati seperti gambar
dibawah
Reaksi khusus untuk mengetahui tingkat hidrolisis tersebut digunakan
larutan iodium. Dikarenakan enzim tersususn
oleh protein, maka enzim sangat peka pada suhu. Enzim amilase pada suhu optimum
atau 370C, dapat menjalankan fungsinya yang merubah amilum menjadi
maltosa (Wirahadikusumah 2010)
Pada percobaan ini, amilum dan
dekstrin yang molekulnya masih besar dengan diteteskan pereaksi iod menimbulkan
warna biru. Hal ini berarti saliva yang digunakan sebagai sampel positif
mengandung pati atau amilum. Titik saat pereaksi iod tidak lagi memunjukkan
hasil positif disebut titik akromatik. Tidak adanya perubahan warna menjadi
biru ketika diteteskan pereaksi iod terjadi pada menit ke 2,5. Hal tersebut
sesuai dengan literatur dimana pati yang matang akan cepat mengalami
hidrolisis. Kemampuan hidrolisis enzim amilase lebih
cepat pada pati matang dibandingkan dengan pati mentah, karena pati mentah
memiliki struktur yang saling berikatan lebih kuat dibandingkan dengan pati
matang sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuk enzim amilase agar dapat
menghidrolisis pati mentah ( Poedjiadi 2007).
Tabel
3 Hidrolisis Pati Mentah Oleh Amilase Air Liur
|
UJI
|
WAKTU
(MENIT)
|
HASIL
|
PENGAMATAN
|
GAMBAR
|
|
IOD
|
0,5
|
+
|
kuning Kehitaman
|
|
|
1
|
+
|
kuning Kehitaman
|
||
|
1,5
|
+
|
kuning Kehitaman
|
||
|
2
|
+
|
kuning Kehitaman
|
||
|
2,5
|
+
|
kuning Kehitaman
|
||
|
15
|
+
|
kuning Kehitaman
|
Ket
: + = mengandung pati
- = pati terhidrolisis
- = pati terhidrolisis
Pati mentah yaitu merupakan pati yang
tidak mengalami proses pemanasan. Dalam
percobaan hidrolisis pati mentah dengan amilase air liur dilakukan dengan cara
pecampuran pati sebanyak 0,05 gr dengan
akuades dan air liur yang mengandung amilase, Selanjutnya campuran
setiap setengah menit di berikan satu tetes iod. Dari hasil yang di
dapatkan setelah lima belas menit dilakukan penetesan iod keadaan larutan yang disimpan di dalam suhu 37oC
menghasilkan warna kuning kehitaman yang menandakan reaksi positif dan masih mengandung pati karena pati tidak terhidrolisis oleh amilase. Dari hasil
ini menunjukkan bahwa hidrolisis pati
matang mempunyai titik akromatik yang lebih
cepat dari pada pati mentah. Dari hasil yang didapatkan dalam percobaan ini
tidak sampai mencapai titik akhromatik.Hal itu dapat terjadi karena beberapa hal seperti saringan air liur yang kurang sempurna, masih terdapat gumpalan
pati yang belum tercampur dengan baik, dan selain
itu penetesan
kadar air liur atau iodium tidak seimbang.
Kesimpulan
Amilase liur memiliki pH
aktif enzim yaitu antara 6-8, sedangkan pH optimumnya adalah 7. Pada pH 2 atau
pH 1 aktivitas enzim akan segera terinaktivasi. Pati mentah memiliki ikatan pati yang lebih
kompleks dari pada pati matang sehingga Kemampuan
hidrolisis enzim amilase akan lebih cepat pada pati
matang dibandingkan dengan pati mentah.
Daftar Pustaka
Achadi, Endang. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta
(ID): Rajawali Pr.
Almatsier S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID): Gramedia.
Amerongen A. 2006. Ludah dan Kelenjar Ludah: Arti Bagi Kesehatan Gigi.
Surabaya:
UGM Press.
Bintang,
Maria. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta(ID)
: Erlangga
Campbell,
Niel A, Jane BR, Lawrence GM. 2004. Biologi.
Jakarta (ID): Erlangga.
Isnaeni,
Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta
(ID): Kanisius.
Maryati S. 2008. Sistem Pencernaan Makanan.
Jakarta: Erlangga.
Poedjiadi A. 2007. Dasar-Dasar
Biokimia. Jakarta: UI Press.
Sastrohamidjo.
2005. Kimia Organik. Yogyakarta(ID) :Gajah mada press
Soemardjo,
D. 2008. Pengantar Kimia: Buku Panduan
kuliah Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: EGC.
Soewoto,hafiz,dkk.2000.biokimia eksperimen laboratorium. Jakarta: Widya
Medika
Sutarno, Nono. 2001. Biologi Umum Lanjutan I. Jakarta
: Unibersitas Terbuka.
Wirahadikusumah
M.2010. Biokimia:
Protein, Enzim, dan Asam Nukleat.
Bandung: ITB Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar